Translate

Sabtu, 30 Maret 2013

skripsi pengaruh menonton budaya negatif di televisi terhadap perkembangan akhlak remaja di dekolah

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
            Di sepanjang kehidupannya, manusia melalui berbagai masa dan tahapan. Tidak diragukan lagi, tidak ada satupun masa yang lebih manis dan indah seperti masa yang dinikmati oleh anak-anak. Orang-orang dewasa senantiasa mengenang masa kecil mereka dengan penuh rasa suka cita dan mereka akan menceritakan peristiwa dan kenangan masa kecil itu dengan penuh semangat. Permainan, imajinasi, rasa ingin tahu, dan ketiadaan beban hidup, membuat masa kanak-kanak menjadi manis dan menarik buat semua orang. Namun, dewasa ini, para ahli psikologi dan sosial meyakini, era kanak-kanak di dunia sedang berhadapan dengan keruntuhan dan akan tinggal menjadi sejarah saja. Di masa yang akan datang, anak-anak di dunia tidak akan lagi menikmati masa kanak-kanak yang manis, yang seharusnya menjadi masa terpenting dalam membentuk kepribadian mereka.[1]
            Dewasa ini, media masa Barat, dengan program-programnya yang memperlihatkan kerusakan moral dan kekerasannya, sedang merobohkan dinding yang menjadi tembok pemisah antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Barat, namun juga di negara-negara lain karena besarnya infiltrasi media barat di berbagai penjuru dunia. Dengan kata lain, anak-anak zaman kini dibebaskan untuk melihat apa yang seharusnya hanya ditonton oleh orang dewasa dan hal ini dapat berdampak buruk bagi anak-anak itu.
            Doktor Tabatabaein, seorang pakar media di Iran, pernah menulis bahwa masa kanak-kanak merupakan salah satu tahapan usia seorang manusia, yang memiliki kebutuhan dan kapasitas tersendiri. Jiwa dan fisik anak-anak yang lembut tidak memiliki kesiapan untuk dihadapkan kepada konflik dan masalah yang dialami oleh orang dewasa. Neil Postman, seorang penulis Amerika, juga pernah menulis bahwa jika sudah tidak ada batas antara dunia anak-anak dan dunia orang dewasa, tidak akan ada lagi apa yang dinamakan sebagai dunia kanak-kanak.[2]
            Di antara berbagai media masa, televisi memainkan peran yang terbesar dalam menyajikan informasi yang tidak layak dan terlalu dini bagi anak-anak. Menurut para pakar masalah media dan psikologi, di balik keunggulan yang dimilikinya, televisi berpotensi besar dalam meninggalkan dampak negatif di tengah berbagai lapisan masyarakat, khususnya anak-anak. Memang terdapat usaha untuk menggerakan para orang tua agar mengarahkan anak-anak mereka supaya menonton program atau acara yang dikhususkan untuk mereka saja, namun pada prakteknya, sedikit sekali orangtua yang memperhatikan ini.[3]
                Peradaban moderen telah melahirkan berbagai teknologi yang canggih. Salah satu teknologi yang lahir dari peradaban modern tersebut adalah media elektronik yang bernama televisi. Televisi telah mampu menarik perhatian semua manusia dan menjadikannya sebagai salah satu bagian dari kehidupannya, karena kebutuhan akan informasi, hiburan dan pendidikan di dapat dari salah satu media yang bernama televisi ini. Benda kotak ini menjadi salah satu media hiburan yang menyenangkan, tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa tapi juga bagi anak-anak. Kenapa menyenangkan? Karena televisi menyajikan pesan suara dan gambar bergerak secara bersamaan  yang di pancarkan melalui stasiun pemancar.[4]
Namun, di balik yang menyenagkan itu televisi kebanyakan acaranya tidak sehat dan juga tidak mendidik. Barangkali, kritik yang paling gencar dilontarkan oleh orang-orang yang mengecam meningkatnya tayangan kekerasan dan seks di TV secara gamblang. Misalnya, sebuah penelitian di Amerika Serikat mendapati bahwa hampir 2 di antara 3 acara TV memuat adegan kekerasan, rata-rata enam adegan per jam. Sewaktu seorang remaja mencapai usia dewasa, dia telah menonton ribuan tayangan adegan kekerasan dan pembunuhan. Topik-topik seksual juga berlimpah. Dua per tiga dari semua acara TV mencakup percakapan tentang seks, dan 35 persen mencakup perilaku seksual, yang biasanya disajikan sebagai perilaku yang bebas risiko dan spontan serta melibatkan pasangan-pasangan yang belum menikah.[5]
Televisi merupakan media yang dapat menampilkan suara dan gambar sekaligus. Ia menyibukkan dua indra sekaligus yakni, pendengaran dan penglihatan. Televisi mampu memukau penonton dengan sempurna pada materi media yang dihidangkannya.[6]
            Golongan yang paling mudah menjadi sasaran media televisi adalah anak-anak dan remaja. Anak-anak  suka meniru apa yang dia liat dan dia dengar, sedangkankan remaja lebih parah lagi karena didukung dengan daya khayalanya yang luas dan liar.[7]
            Masa kanak-kanak dan remaja adalah masa yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pada masa remaja ini masih mencari jati dirinya dan mencari tokoh taoladan yang patut ditiru.
            Apa yang di tampilkan oleh siaran televisi tidak semuanya bernilai positif akan tetapi ada juga yang bernilai negtif. Bisa jadi mereka beranggapan segala yang ditampilkan atau apa yang ditayangkan televisi  bisa di tiru dan dijadikan tauladan. Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yaitu :
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx.
Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.(QS.Al-Ahzab : 21)[8]
            Ayat di atas menjelaskan bahwa tokoh yang patut kita tiru dan contoh adalah Rasulullah yang baik akhlak dan budi pekertinya. Bukan pemain sinetron yang pakaiannya super ketat, gaya rambut ala barat dan gaya bicara anak gaul.
            Pada saat ini  akhlak dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang tua di masyarakat luas, sehingga dapat mengakibatkan moralitas mereka rendah, yang jadi sorotan bagaimana perhatian orang tua dalam mengawasi tontonan anaknya di rumah. Tanpa disadari ternyata tontonan televisi yang tadinya sebagai hiburan berdampak kurang baik bagi anak-anak kita.
            Sekitar 60 juta anak Indonesia menoton televisi selama berjam-jam atau hampir sepanjang hari.[9]  Mulai dari acara gossip, berita criminal, sinetron, film yang penuh dengan kekerasan, intriks, mistis, amoral dan film-film orang dewasa yang sama sekali tidak mendidik.
       Dari fenomena di atas patut kiranya untuk mengambil judul :
PENGARUH MENONTON BUDAYA NEGATIF TAYANGAN TELEVISI TERHADAP PERKEMBANGAN AKHLAK REMAJA DI SEKOLAH”
( Studi Kasus di Sekolah SMA Amaliah Plus Ciawi kabupaten Bogor )
B. Batasan dan Rumusan Masalah                                                 
1.      Batasan masalah
            Melihat dari masalah yang akan di teliti agar tidak meluas maka diambil batasan msalah budaya negatif yang ditanyangkan TV, akhlak pada Allah, akhlak pada diri sendiri dan akhlak pada teman di sekolah.


2.    Rumusan Masalah
            Perumusan masalah sebagai upaya mempermudah pembahasan dan penelitian. Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan  masalah daripenelitian ini adalah :
a.      Bagaimana minat remaja menonton budaya negatif yang ditayangkan televisi?
b.      Bagaimana perkembangan akhlak remaja di sekolah ?
c.      Adakah pengaruh dari seringnya menonton tayangan budaya  negatif terhadap akhlak remaja di sekolah?
C. Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui minat  remaja dalammenonton budya negatiftelevisi, di sekolah SMA Amaliah Plus.
2.      Untuk mengetahui perkembangan akhlah remaja di sekolah.
3.      Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh menonton budaya negatif yang ditayangkan di televisi terhadap akhlak remaja di sekolah.
D. Manfaat Penelitian
1.     Penelitian ini diharapkan dapat menambahkan wawasan berpikir dalam upaya meningkatkan ilmu pengetahuan khususnya bagi penulis.
2.     Penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukkan bagi orang tua untuk mengawasi dan memperhatikan  perkembangan akhlakremaja dari luar khususnya televisi.
3.     Untuk melengkapi syarat gelar Serjana Pendidikan Islam pada jurusan Pendidikan Agama Islam Al-Karimiah Depok.
E. Sistematika Penulisan
Pembahasan skripsi ini terdiri dari lima bab, yang dalam babnya dibagi ke dalam subbab, dengan perincian sebagai berikut:
Bab pertama, berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab dua,  berisi landasan teoritis yang menjelaskan tentang: Konsep tentang televisi yang terdiri dari pengertian pengaruh televisi, fungsi positif dan negatif. Konsep tentang remaja terdiri dari pengertian remaja, peerkembangan usia remaja. Kerangka Akhlak yang terdiri dari pengertian akhlak, hal-hal yang meliputi akhlak, kedudukan akhlak dalam Islam. Kerangka berpikir dan Rumusan Hipotesis.
Bab tiga, pada bab ini memaparkan metode penelitian yang terdiri dari jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, metode dan teknik penelitian, populasi dan sampel penelitian, instrumen penelitian, analisa data.
Bab empat, pada bab ini memaparkan hasil penelitian dan pembahasan yang terdiri dari gambaran umum lokasi penelitian, yang meliputi sekilas perjalanan SMA Amaliah Plus, Visi dan Misi, keadaan guru dan siswa, sarana dan prasarana. Proses pengolahan data penelitian di SMA Amaliah Plus. Pelaksanaan pengolahan data penelitian. Hasil analisis data. Dan Pembahasan hasil penelitian di SMA Amaliah Plus.
Bab lima, merupakan bab penutup, pada bab ini berisi kesimpulan, implikasi dan saran.

BAB II
KERANGKA TEORITIS
A.    Konsep TentangTelevisi
Dalam kamus Bahasa Indonesia televisi adalah sistem penyiaran gambar yang disertaibunyi(suara) melalui kabelatau melalui angkasa menggunakan alat pengubahnya menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dengan bunyi yang dapat didengar.[1]
Televisi adalah pengiriman pesan secara listrik dan penerimanya akan kilasan-kilasan (F.Lasker) bayangan pandangan (IEEE) terdiri atas proses bayangan pemandangan atau adegan yang menempuh jarak, lewat radio atau kawat.[2]
Menurut Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy.MA dalam bukunya Televisi Siaran dan Praktek mengungkapkan pengertia televisi ditinjau dari dua aspek yaitu dilihat dari fungsinya dan jenisnya. Televisi dilihat dari fungsinya yaitu televisi siaran (television brosdcart) yang merupakan media dari jaringan komonikasi dengan ciri-ciri yang dimiliki momonikasi masa yaitu berlangsung satuarah, komonikatornya melembaga, pesannya bersipatumum, sasarannya menimbulkan kesempatan dan komonikasinya heterogen.[3]
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa televisi adalah salah satu media elektronik yang dapat menyampaikan pesan melalui audio dan visual kepada pemirsanya dan memberikan pengetahuan baru sehingga informasi yang ditampilkan sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan bermanfaat.
Televisi saat ini adalah sarana yang paling sangat digemari dan dicari orang. Untuk mendapatkan  televisi tidak lagi susah seperti zaman dahulu dimana perangkat komunikasi ini adalah barang yang langka dan hanya kalangan tertentu yang sanggup memilikinya.Saat ini telavisi telah menjangkau lebih dari 90 persen penduduk di negaara berkembang. Televisi yang dulu mungkin hanya menjadi konsumsi kalangan dan umur tertentu saat ini bisa dinikmati dan sangat mudah dijangkau oleh semua kalangan tanpa batas. Siaran-siaran televisi akan memanjakan orang-orang pada saat-saat luang seperti saat liburan,sehabis bekerja bahkan dalam suasana sedang bekerjapun orang-orang masih menyempatkan diri untuk menoton televisi. Sungguh acara yang variatif dan menarik membuat orang tersanjung untuk meluangkan waktunya duduk di depan televisi.
Namun dibalik itu semua dengan dan tanpa disadari televisi telah memberikan banyak pengaruh negatif dalam kehidupan manusia baik anak-anak maupun orang dewasa. Kita harus berhati-hati sebab televisi selain bisa menjadi teman yang baik bisa juga menjadi musuh yang menghanyutkan.
Dalam sebuah survei yang dilakukan lebih dari setengah anak-anak di AS mempunyai televisi di kamar  mereka. Usia remaja paling banyak menoton televisi di kamar dan hampir sepertiga anak-anak pra sekolah mempunyai televisi di kamar mereka dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menoton televisi. Disebutkan juga adanya beberapa orang siswi sebuah sekolah yang bergantian bolos dari sekolah demi menonton sebuah tayangan opera sabun di televisi.[4]
Di Indonesia mungkin tidak sampai menjadikan persentase sebesar ini namun pengaruh televisi juga telah banyak membentuk pola pikir dari anak-anak Indonesia. Dalam tayangan televisi saat ini terdapat banyak gaya kehidupan  setan seperti kekerasan yang membuat bulu kuduk merinding, vulgaritas, kejahatan, kebencian, sek bebas, penipuan, gaya hidup yang glamor, tatanan rambut yang radikal, dan lain-lain. Orang yang semakin sering menonton tayangan-tayangan seperti itu pada akhirnya akan menerima hal itu sebagai sesuatu perbuatan yang normal.
Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia mencatat rata-rata anak usia Sekolah Dasar menonton televisi antara 30 hingga 35 jam setiap minggu. Artinya pada hari-hari biasa mereka menonton tayangan televisi lebih dari 4 hingga 5 jam sehari. Sementara di hari Minggu bisa 7 sampai 8 jam. Jika rata-rata 4 jam sehari, berarti setahun sekitar 1.400 jam, atau 18.000 jam sampai seorang anak lulus SLTA. Padahal waktu yang dilewatkan anak-anak mulai dari TK sampai SLTA hanya 13.000 jam. Ini berarti anak-anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada untuk kegiatan apa pun, kecuali tidur.[5]
Dalam hal ini televisi telah menjadi propaganda terpenting yang dipakai setan saat ini terhadap manusia baik dewasa maupun anak-anak. Tidak bisa disangkal dewasa ini televisi adalah salah satu guru elektronik bagi anak-anak maupun orang dewasa.
1.      Fungsi televisi sebagai media masa.
Sama seperti media masayang lainnya televisi pada pokoknya memiliki tiga fungsi yakni :
a.       Fungsi penerangan
b.      Fungsi pendidikan
c.       Fungsi hiburan
Fungsi televisi sebagai media masa adalah sebagai penerang, karena media mampu menyiarkan informasi yang sangat memuaskan hal ini disebabkan dua paktor yang terdapat pada media audio visual itu pertama Immediacy (perstiwa yang disiarkan oleh stasiun televisi dapat dilihat dan didengar oleh pemirsa saat perestiwan itu berlangsung). Reslism (sesuai kenyataan) stasiun televisi menyampaikan berita sesui dengan kenyataan karena informasinya audio visual.[6]
Televisi memberikan penerangan terhadap berita atau informasi tentang kesehatan, politik, sosial, kriminal dan sebagainya.
Fungsi pendidikan yaitu sebagai media masa televisi yang mampu menyiarkan acara pendidikan kepada khalayak yang jumlahnya begitu banyak secara simultan. Sesuai dengan makna pendidikan yakni meningkatkan pengetahuan dan penalaran masyarakat maka stasiun televisi menyiarkan acara-acara tertentu secara teratur, misalnya pelajaran bahasa, matematika, elektronika dan sebagainya.[7]
Fungsi hiburan, sebagi negara yang besifat agraris hiburan sangat dibutuhkan. Oleh karena itu televisi mendominan, sebagian besar alokasi waktu siaran diisi oleh acara-acara hiburan
Jadi, televisi sangat dibutuhkan untuk menyampaikan berita kepada masyarakat dan sebagai hiburan bagi penikmatnya. Selain sebagai penyampai berita dan hiburan bisa juga sebagai sarana pendidikan.
2.      Sisi positif yang bisa diberikan televisi bagi kita :
a.       Televisi hadir sebagai sarana untuk memperlancar hubungan dan komonikasi antara manusia. Banyak perubahan dan kemajuan yang terjadi pada masyarakat abad kedua puluh dengan datangnya media berupa televisi.[8]
b.      Televisi menghibur kita. Pada dasarnya fungsi televisi adalah memberikan hiburan yang sehat serta pengetahuan kepada pemirsanya. Tidak bisa di pungkir bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan hiburan.[9]
c.       Pada anak yang lebih kecil, usia 2-3 tahun efek program pendidikan itu jauh lebih kuat di banding dengan anak yang tidak menggunakan televisi.[10]
d.      Televisi sebagai sumber informasi tentang peristiwa yang terjadi dengan cepat seperti kejadian bencana alam dan sebagainya, yang perlu diketahui dan mendapat perhatian secara cepat.[11]
e.       Selain itu televisi juga berfungsi sebagai media sosial, yakni sebagai media untuk memobilisasi simpati, empati, dan dukungan terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang memerlukan respon masyarakat luas seperti gerakan solidaritas membantu korban bencana alam, gerakan orang tua asuh, dan lain-lain.
Jadi, sisi positif televisi bisa sebagai media yang memperlancar hubungan antar manusia, sebagai media pendidikan, sebagai sarana hiburan dan sebagai media sosial bagi masyarakat.
3.      Sisi negatif dari televisi.
a)      Sinar biru dari televisi dapat berpotensi memicu terbentuknya  radikal bebas dan melukai fotokimia pada retina mata anak.
b)      Televise adalah lawan dari membaca,[12]
c)      Televisi bisa merusak peradaban kita. Banyaktayangan televisi saat ini yang sudah kehilangan fungsi. Televisi menjadi pusat komersial nomor satu. Acara-acara dikemas untuk bisadijual publik. Banyak acara televisi yang sama sekali tidak menghargai kehidupan bermasyarakat dan beragama. Banyak yang tidak lagi mengejar impian dan nilai-nilai moral tetapi sebaliknya menyerap nilai-nilai yang menyimpang dari masyarakat yang rapuh. Mengajarkan orang bagaimana berbuat licik, jahat, berprilaku  jelek, membunuh dan seni berbohong. Tayangan-tayangan yang berbau kekerasan, seksual, banyak mempengaruhi jalan pikiran pemirsa yang akibatnya adalah mereka menganggap hal itu sebagai sesuatu yang normal untuk dilakukan.[13]
d)     Televisi bisa menyita banyak waktu berharga kita. Berdasarkan survey, kurang 25% orang tua percaya bahwa anak-anak mereka lebih banyak menonton televisi. Pada akhirnya televisi akan memanjakan permisa yang membuat orang lupa untuk beraktivitas, menghancurkan gairah kerja, dan lain-lain. Banyak acara populer yang ditayangkan pada tengah malam atau subuh. Para penggemar acara tersebut akan memilih untuk duduk didepan televisi semalaman dari pada memikirkan pekerjaan esok hari. Akhirnya keadaan ini mengurangi etos dan kualitas kerja. Satu hal yang sangat menyedihkan adalah ketika diwaktu isya yang seharusnya mereka shalat malah disajikan acara sinetron karena menurut insan-insan pertelevisian waktu ini disebut dengan prime time, yang mana waktu ini amat diperebutkan oleh instansi pertelevisiaan.[14]
e)      Televisi bisa membohongi dan sekaligus membuat kita lupa diri. Penonton disajikan dengan tindakan dan konsekuensi yang sepenuhnya tidak realitas. Seperti cerita-cerita yang tidak masuk akal, kehidupan fantasi yang mengeksploitasi seks, kekayaan dan dewi penolong. Anak-anak sangat mudah terpengaruh dan mengadopsi kehidupan sang tokoh film dalam kehidupannya dan menginginkan diri seperti tokoh tersebut. Televisi banyak mempengaruhi pemirsa secara psikologis. Banyak tayangan yang mengajak pemirsanya untuk hidup dalam dunia hayalan. Televisi mengajarkan kepuasan sesaat, seperti iklan yang di gunakanuntuk menarik anak-anak dan remaja serta menarik mereka untuk membeli produk mereka yang menipu. Televisi mengajarkan bahwa kebahagiaan memiliki segala sesuatu.[15]
f)       Televisi bisa mempengaruhi cara keluarga berinteraksi[16].
Jadi, sisi negatif dari televisi adalah berpengaruh terhadap kesehatan mata, menjaikan orang malas membaca, merusak peradaban kita, menyita banyak waktu, mengajarkan seni berbohong dan membuat kita lupa diri serta mempengaruhi cara keluarga berinteraksi.

B.     Konsep tentang remaja
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik.[17]
Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Remaja ada di antara anak dan orang dewasa. Remja masih belum mampu menguasai fungsi-fungsi fisik maupun psikisnya. Ditinjau dari segi tersebut mereka masih termasuk golongan kanak-kanak, mereka mesti harus menemukan tempat dalam masyarakat. Pada umumnya mereka masih sekolah menengah atau perguruan tinggi.[18]
Menurut Kwee Soen Liang SH.Masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.[19]


Sedangkan menurut Zakiah Darajat remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.[20]
Hal senada diungkapkan oleh Santrockbahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.[21]
Jadi, dapat di simpulkan bahwa remaja adalah dimana masa usia seorang anak yang mengalami perubahan dari anak menuju dewasa. Yang mana saat usia ini terjadi perubahan pisik dan pisikisnya menuju kematangan.
Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga yaitu :
·         12 – 15 tahun = masa remaja awal, 15 – 18 tahun = masa remaja pertengahan
·          18 – 21 tahun = masa remaja akhir.
Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu :
·         masa pra-remaja 10 – 12 tahun.
·         masa remaja awal 12 – 15 tahun.
·         masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun.
·         masa remaja akhir 18 – 21 tahun.[22]


Definisi yang dipaparkan oleh Sri Rumini & Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan Santrock tersebut menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis.
1.      Aspek-Aspek Perkembangan Pada Masa Remaja
a.       Perkembangan fisik
Drs H.M. Arifin, M.Ed. merangkum berbagai pendapat para ahli biologi tentang makna pertumbuhan dan perkembangan sebagai berikut :
 “ Pertumbuhan diartikan sebgai suatu penambahan dalam suatu ukuran bentuk, berat atau demensif tubuh serta bagian-bagiannya. Adapun kata perkembangan menunjuk pada perubahan-perubahan dalam bentuk ukuran / bagian tubuh dan integrasi bagiannya kedalam satu kesatuan fungsional bila pertumbuhan itu berlangsung”.[23]

Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif.[24]
Jadi, pertumbuhan adalah tejadinya perubahan atau penambahan bentuk tubuh, berat badan dan kematangan organ seksual.
b.      Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget, seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka.
Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.[25]

Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal.[26]
Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi kongkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan.[27]
Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.[28]
Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan.[29]
Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja.[30]

Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.[31]
Jadi, perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak.
c.       Perkembangan kepribadian dan sosial
Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik. Sedangkan  perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain.[32]
Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup.[33]
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua. Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman. Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.[34]
 Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya’[35]
Jadi, perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik. Sedangkan perkembngan sosial adalah perubahan cara berhubungan dengan orang lain atau lingkungan.
2.      Ciri-ciri Masa Remaja
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.
a.       Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.[36]
b.      Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.[37]
c.       Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.[38]
d.      Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
e.       Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.[39]

C. Konsep tentang akhlak
  1. Pengertian akhlak
Secara etimologis (lughat) akhlaq (bahasa Arab) adalah bentuk jamak dari khulaq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.[40]
Secara terminologi akhlak adalah :
    1. Menurut Ibn Miskawawih
“Keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (lebih dulu)”[41]
    1. Versi Imam Al-Ghazali
“Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan  dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran”[42]
    1. Prof. Dr. Ahmad Amin
“Sementara orang yang mengetahui bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu bila membiasakan sesuatu, kebiasaan itu dinamakan akhlak”.[43]
Jadi, Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan atau tingkah laku yang menjadi kebiasaan.
Di samping istilah akhlak juga dikenal etika dan moral ketiga istilah ini sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap perbuatan manusia. perbedaannya terletak pada standar masing-masing. Bagi akhlak standarnya adalah Al-Qur’an dan assunah, bagi etika standarnya adalah akal pikiran dan bagi moral standarnya adalah adat kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat.[44]
Dalam pembinaan akhlak mulia merupakan ajaran dasar dalam Islam dan pernah diamalkan seseorang, nilai-nilai yang harus dimasukkan ke dalam dirinya dari semasa ia kecil. Ibadah dalam Islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Al-Qur’an dikaitkan dengan taqwa, dan taqwa berarti pelaksanaan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya. Larangan Tuhan berhubungan perbuatan tidak baik, orang bertakwa adalah orang yang menggunakan akalnya dan pembinaan akhlak adalah ajaran paling dasar dalam Islam.[45]
Dalam perspektif pendidikan Islam, pendidikan akhlak adalah faktor penting dalam pembinaan umat oleh karena itu, pembentukan akhlak dijadikan sebagai bagian dari tujuan pendidikan. Pendapat Atiyah al-Abrasyi, bahwa pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam, dan mencapai kesempurnaan akhlak merupakan tujuan pendidikan Islam.[46]
Firman Allah swt. dalam QS. (29): 45
žcÎ) no4qn=¢Á9$# 4sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍s3ZßJø9$#ur 3
Artinya : “…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. ( QS. Al’Ankabuut : 45 )[47]
Firman Allah swt. dalam QS. (3): 159
$yJÎ6sù 7pyJômu z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur |MYä. $ˆàsù xáÎ=xî É=ù=s)ø9$# (#qÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym (
Artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…( QS.Al-Imran :159 )[48]
Dari dua ayat di atas sangat jelas menekankan kita untuk menjadikan akhlak sebagai landasan segala tingkah laku yang berasal dari Al-Qur’an.
  1. Ruang Lingkup Akhlak
Secara rinci akhlak dalam Islam dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
a.       Akhlak manusia terhadap al-khaliq.
b.      Akhlak manusia terhadap dirinya sendiri.
c.       Akhlak manusia terhadap sesamanya.
d.      Akhlak manusia terhadap alam lingkungannya.[49]
Yunahar Ilyas membagi pembahasan akhlak dengan enam bagian, yaitu:
a.       Akhlak terhadap Allah swt.
b.      Akhlak terhadap Rasulullah saw.
c.       Akhlak pribadi.
d.      Akhlak dalam keluarga.
e.       Akhlak bermasyarakat.
f.       Akhlak bernegara.[50]
Prinsip akhlak dalam Islam yang paling menonjol adalah bahwa manusia dalam melakukan tindakan-tindakannya, ia mempunyai kehendak-kehendak dan tidak melakukan sesuatu. Ia harus bertanggung jawab atas semua dilakukannya dan harus menjaga perintah dan larangan akhlak. Tanggung jawab itu merupakan tanggung jawab pribadi muslim, begitupun dalam kehidupan sehari-hari harus selalu menampakkan sikap perbuatan berakhlak. Akan tetapi akhlak bukalah semata-mata hanya perbuatan akan tetapi lebih kepada gambaran jiwa yang tersembunyi.[51]
  1. Macam-Macam Akhlak
a.       Akhlak terpuji
Yang termasuk akhlak terpuji di antaranya sebagai berikut:
(1)   Jujur
Sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang baik harta, ilmu, rahasia dan sebagainya yang wajib dipelihara atau disampaikan kepada yang berhak menerimanya.
(2)   Pemaaf
Manusia tidak luput darikhilafatau salah. Maka apabila orang berbuat sesuatu kepada diri kita yang mungkin karena khilaf atau salah maka maafkanlah sebagai rahmat Allah SWT dan janganlah mendendam.
(3)   Saling tolong-menolong
Saling tolong-menolong adalah ciri kehalusan budi, kesucian jiwa, ketinggian akhlak dan membuahkan cinta antara sesama manusia.[52]
b.       Akhlak tercela
Yang termasuk akhlak yang tercela di antaranya sebagai berikut:
(1)   Dengki
Ialah membenci nikmat Tuhan yang dianugerahkan kepada orang lain dengan keinginan agar nikmat orang lain itu terhapus.
(2)   Dusta ( bohong )
Dusta ialah memberikan sesuatu yang berlainan dengan kejadian yang sebenarnya .Orang yang berdusta menunjukan kelemahan dirinya dan dusta adalah salah satu dari pada tanda munafik.
(3)   Aniaya ( zholim )
Aniaya ialah meletakan sesuatu tidak pada tempatnya dan mengurangi hak yang seharusnya diberikan.
  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Akhlak
Pertama seseorang mempunyai tingkah laku atau akhlak, karena adanya pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu ada dua faktor yang mempengaruhi akhlak anak yaitu:
a.       Faktor keturunan atau keluarga
Faktor keturunan atau keluarga merupakan pendidikan yang utama bagi pembentukan akhlak anaknya. Yang dilakukan oleh orang tuanya biasanya si anak mengikutinya. Oleh karena itu peran orang tua sangat mempengaruhi watak dan karakter anak-anaknya. Pepatah mengatakan “Guru kencing berdiri murid kencing berlari.”
Nabi Muhammad SAW menjelaskan dalam hadis yang dibawa oleh Abu Hurairah :
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِيْهِ اَوْيُنَصِّرَانِيْهِ وْيُمَجِّسَانِيْه
Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci atau fitrah tergantung kedua orang tuanya mau dijadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi.”(HR.Bukhari dan Muslim).[53]
Didikan dan bimbingan dalam keluarga secara langsung banyak memberikan bekas bagi penghuni rumah itu sendiri dalam tindak tanduknya. Dan secara tidak langsung gerak langkah dari orang dewasa (baik ayah maupun ibu) terutama sekali oleh seorang anak yang masih memerlukan bimbingan dan perkembangan kematangan hidupnya.
b.      Faktor lingkungan atau pergaulan
Faktor yang mempengaruhi akhlak seseorang di samping faktor keturunan dan juga faktor lingkungan, dari faktor kedua ini faktor pergaulan atau lingkunganlah yang sangat kuat pengaruhnya atau sangat dominan pengaruhnya dalam pembentukan karakter atau akhlak. Seperti orang tua dahulu bilang siapa yang bergaul dengan jualan minyak wangi maka akan dapat wanginya dan siapa yang bergaul dengan tukang las maka akan terkena percikan apinya.[54]

C.    Kerangka Berpikir
Peradaban moderen telah melahirkan berbagai teknologi yang canggih. Salah satu teknologi yang lahir dari peradaban modern tersebut adalah media elektronik yang bernama televisi. Televisi telah mampu menarik perhatian semua manusia dan menjadikannya sebagai salah satu bagian dari kehidupannya, karena kebutuhan akan informasi, hiburan dan pendidikan di dapat dari salah satu media yang bernama televisi ini. Benda kotak ini menjadi salah satu media hiburan yang menyenangkan, tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa tapi juga bagi anak-anak dan remaja.
Televisi  adalah salah satu media elektronik yang dapat menyampaikan pesan melalui audio dan visual kepada pemirsanya dan memberikan pengetahuan baru sehingga informasi yang ditampilkan sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan bermanfaat.
Namun pada kenyataanya tayangaan-tayangan yang di sajikan terlalu membahayakan bagi perkembangan pola piker dan tingkah laku generasi muda pada khususnya remaja. Dalam tayangan televisi saat ini terdapat banyak gaya kehidupan  setan seperti kekerasan yang membuat bulu kuduk merinding, vulgaritas, kejahatan, kebencian, sek bebas, penipuan, gaya hidup yang glamor, tatanan rambut yang radikal, dan lain-lain. Orang yang semakin sering menonton tayangan-tayangan seperti itu pada akhirnya akan menerima hal itu sebagai sesuatu perbuatan yang normal.
Golongan yang paling mudah terpengaruh dari menoton tayangan negatif ini di televisi adalah anak-anak dan remaja. Anak-anak suka meniru apa yang dia liat dan dia dengar. Sedangkan remaja lebih parah lagi, dimana saat masa usia mencari jati diri. Dimana usia remaja mempunyai daya khayal yang luas dan liar.
E.  Rumusan Hipotesis / Anggapan Dasar
       Menurut Suharsimi Arikunto hipotesis diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data terkumpul.[55]
       Untuk memberikan arah pada penelitian ini maka dirumuskan sebagai berikut :
Ho : Tidak ada pengaruh menoton budaya negatif tayangan televisiterhadap perkembangan akhlak  remaja di SMA Amaliah Plus Ciawi.
Hi : Ada pengaruh menoton budaya negatif tayangan televisi terhadap perkembangan akhlak remaja di SMA Amaliah Plus Ciawi.
BAB III
PROSEDUR PENELITIAN
A.    Tempat dan Waktu Penelitian
      Tempat penelitian di SMA Amaliah Plus, Jl. Raya Tol Ciawi No 1. Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.Adapuan  waktu penelitian mulai bulan Maret s/d April 2011.
B.     Populasi dan Sampel Penelitian
1.      Pupulasi Peneltian
            Pupulasi adalah objek yang dijadikan sasaran penelitian yang memiliki ciri-ciri dan krakteristik tertentu.Pupulasi adalah keseluruhan sobjek penelitian.[1]
            Dilandasi pengertian diatas, yang menjadi populasi dalam penelitian ini siswa SMA Amaliah Plus berjumlah 159 siswa, dari 5 kelas berdasarkan data yang ada.
2.      Sampel Penelitian
            Mengenai sampel yang akan diambil pada penelitian ini mengacu pada pendapat suharsimi Arikunto, Mengatakan ; apabila subyeknya kurang dari 100, maka lebih baik semua, sehingga penelitinya merupakan penelitian populasi. Karena dalam penelitian ini subyek 158, maka peneliti mengambil penelitian sampel, yaitu 25% dari populasi.[2] Jadi, jumlah sampel yang di ambil sebanyak 39.
C.    Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
1.      Metode Penelitian
            Dalam penelitian skripsi ini, penulis menggunakan metode deskriptif, yaitu “metode penelitian yang berusaha untuk mengetahui pengaruh atau hubungan tentang fakta-fakta atau kenyataan yang sesungguhnya yang terjadi, dengan cara menyebarkan angket kepada responden di tempat penelitian.”[3]
            Penulis juga menggunakan metode korelasi, yaitu suatu cara untuk menjawab masalah dengan cara menghubungkan ada atau tidaknya hubungan yang signifikan antara variabel. Metode korelasi ini diunakan karena disesuaikan dengan judul penelitian: Pengaruh Menoton Budaya Negatif Tayangan Televisi Terhadap Perkembngan Akhlak Remaja di Sekolah.
2.      Teknik Penelitian
           Untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini ditempuh beberapa teknik antara lain :
a.       Observasi
                     Secara luas, observasi atau penamatan berarti setiap kegiatan untuk melakukan pengukuran . Akan tetapi, observasi atau pengamatan disini diartikan lebih sempit yaitu pengamatan dengan menggunakan indra penglihatan yang berarti tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
b.      Angket
            Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti  laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui.[4]
            Angket merupakan suatu alat pengumpulan data yang berisi daftar pertanyaan secara tertulis yang ditujukan kepada responden sebanyak jumlah yang ditentukan. Untuk memperoleh data yang objektif tentang pengaruh menonton budaya negative di televisi terhadap perkembangan akhlak anak remaja di sekolah.
c.       Dokumentasi
            Tekhnik ini adalah cara pengumpulan data melalui peninggalan tertulis, terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku, tentang pendapat, teori, dalil hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penyelidikan.[5]

D.    Instrumen Penelitian
      Seperti telah diuraikan diatas, bahwa sebagai instrumen penelitian untuk mengumpulkan data utama dalam penelitian ini dengan angket, yang berupa angket tertutup.
      Untuk keperluan penelitian ini penulis menentukan prosedur yang sistematis dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Penyusunan Angket
            Langkah pertama membuat kisi-kisi penelitian yang disesuaikan atau sebagai penjabaran dari pertanyaan penelitian. Langkah selanjutnya memuat angket penelitian dengan membuat petunjuk pengisian serta penyusunan daftar pertanyaan dalam bentuk pilihan, dengan tujuan diharapkan responden dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang dianggap tepat dari sekian item yang disediakan.
2.      Uji Coba Angket
            Untuk mendapatkan data yang akurat, sekurang-kurangnya ada dua syarat yang harus dipenuhi oleh instrument penelitian yaitu instrument penelitian harus memiliki tingkat kesahihan (validitas) dan keterandalan (realibitas).
Upaya untuk mendapatkan data yang valid dan reliable sebelumnya dilaksanakan uji coba terlebih dahulu instrument pada responden.
3.      Revisi Angket
            Dari hasil uji coba tersebut dapat dilihat item pertanyaan yang kurang dapat dimengerti, sehingga jawaban tidak sesuai yang diharapkan.
            Untuk mengatasi hal tersebut maka diadakan revisi atau perbaikan-perbaikan, baik mengganti pertanyaan dan susunan kalimat. Sehingga mudah dimengerti maksud dan tujuannya. Dengan revisi tersebut diharapkan dapat memperoleh data yang seobyektif mungkin.
4.      Penggandaan Angket
            Setelah angket dianggap mewakili dan sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian melalui perbaikan-perbaikan, maka angket tersebut digandakan / diperbanyak sesuai dengan jumlah responden yang telah ditentukan.
E.     Langkah-Langkah Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini penulis mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Menghubungi dan Bertemu Langsung Dengan Kepala SMA Amaliah Plus Ciawi.
            Untuk menghindari adanya kesalah pahaman antara penulis dan pihak sekolah, maka penulis menghubungi dan bertemu langsung dengan pihak sekolah dalam hal ini kepala sekolah SMA Amaliah Plus Ciawi, setelah mendapat izin dari pihak sekolah, barulah penulis mengadakan penelitian.
2.      Tahapan Pelaksanaan
            Pada tahap ini penulis meminta bantuan kepada pihak sekolah untuk menyebarkan angket yang telah disediakan untuk dibagikan kepada responden.Pada saat itu penulis hanya menjelaskan kepada responden seperlunya, agar responden memahami dan menjawab angket sesuai dengan kenyataan yang ada.
F.     Analisis Data
            Data yang terkumpul dari hasil penyebaran angket belum merupakan hasil yang berarti. Oleh karena itu perlu pengolahan data dan analisis data untuk mencapai hasil yang  diinginkan, yaitu dapat mengungkapkan permasalahan yang diteliti.
            Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam pengolahan data dan analisis data sebagai berikut, analisis data ini dapat dilakukan setelah terkumpulnya data-data dari hasil observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Analisi data ini penulis lakukan dengan cara menggunakan rumus korelasi untuk melihat apakah ada hubungan antar variabel dalam penelitian.
Berikut adalah rumus untuk mencari koefisien korelasi:
Keterangan:
Rxy     = Angka indeks korelasi “r” product moment
N         = Number of cases
∑XY   = Jumlah hasil perkalian antara skor X dan skor Y
∑X      = Jumlah seluruh skor X
∑Y      = Jumlah seluruh skor Y
            Kemudian memberikan interpretasi terhadap angka indeks korelasi “r” product moment dengan interpretasi kasar atau sederhana, yaitu dengan mencocokkan perhitungan dengan angka indeks korelasi “r” product moment.
Tabel 1
Nilai r product  moment
Besarnya Nilai
Interprestasi
Antara 0,800 – 1,000
Tinggi
Antara 0,600 – 0,800
Cukup
Antara 0,400 – 0,600
Agak Rendah
Antara 0,200 – 0,400
Rendah
Antara 0,000 – 0,200
Sangat Rendah

Selanjutnya untuk menentukan data penelitian ini signifikan atau tidak, digunakan rumus sebagai berikut:
Rumus selanjutnya adalah untuk mencari kontribusi variabel X terhadap variabel Y dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

KD      =  Koefision Determination (kontribusi variabel X terhadap variabelY).
r           =  Koefisien korelasi antara variabel X dan Y.



[1]Suharsimi Arikunto,Prusedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,Jakarta,2006.h…130
[2]. Ibid.h…134
[3] Suharsimi, Arikunto, prosedur penelitian, JakartaP PT. Rineka Cipta, 2006, hal. 24
[4]Suharsimi Arikunto,Op.Cit,hlm..151
[5]Ibid, hal…158

[1].Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 2003.
[2]. Onong Uchjana Effendy. Televisi Siaran Teori dan Praktek, Bandung : Masdar Maju, 1993.
[3] . Ibid…
[4]David Biak pemangkat, pengaruh dari sinetron Indonesia .jakarta 1998. H,,6
[5]http://heriyantoo.blolsport.com.04-07-2011
[6] Onong Uchjana Effendy. Televisi Siaran Teori dan Praktek, Bandung : Masdar Maju, 1993.h..25
[7]Deddy Iskandar Muda, Jurnalistik Te3levisi Menjadi Reporter Propesional, Bandung.Rusda    Karya,1986.h.23
[8]Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia, Bandung, Simbiosa Rekatama Media,2005,hal 3
[9]http://iriani77.blogdetik.com.24,02,2011
[10]Suara hidayatulaah.
[11]Op Cit, Haris Sumadiria.h, 5
[12]Suara Hidayatullah,02,2006ha..62
[13]Elizabet B.Hourlock, Pisikologi Perkembangan,Jakarta: PT Glora Aksara Pratama,1978,h..40
[14]http : // Iblogronnpgp-bahasa-blogspot.com
[15]UP Cit. Elizabet B.Hourlock.h..41
[16]Ibid
[17].http//belajarpsikologi.com,Remaja Menurut Para Ahli,01-12-2010,20:44WIB
[18]. Monks , Knoers, Siti Rahayu Haditono, Psikologi perkembangan pengantar dalam berbagai bagiannya, Yogyakarta, UGM, 2006 h…259
[19]Muhammad Al-Mighwar. Psikologi Remaja. Pustaka Setia. 2006. Ha…62
[20]http//belajarpsikologi.com,Remaja Menurut Para Ahli,01-12-2010,20:44WIB
[21]Ibid…

[22]UP Cit,Monks , Knoers, Siti Rahayu Haditono.h…267
[23]Up cit.Muhammad Al-Mighwar.hal..75
[24]http//belajarpsikologi.com,Remaja Menurut Para Ahli,01-12-2010,20:44WIB
[25]Dr Akram Ridho, Remaja Tanpa Masalah, Jakarta,Qisthi Press, 2005.h…117
[26]Up Cit, Monks , Knoers, Siti Rahayu Haditono. H..254
[27]Ibid…
[28]Syaikh M. Jamaludin Mahfuzh, psikologi Anak dan Remaja Muslim.Jakarta, Pustaka Kausar.2009, h…127
[29]UP Cit, Dr.akgram Ridho.h…..97
[30]Ibid..
[31]Up Cit, Dr.Akram Ridho. H. .201
[32]Muhammad Al-Mighwar.Psikologi Remaja.Pustaka Setia. H..76
[33]http//belajarpsikologi.com,Remaja Menurut Para Ahli,01-12-2010,20:44WIB
[34]Up Cit,Monks , Knoers, Siti Rahayu Haditono.h 276
[35]http//belajarpsikologi.com,Remaja Menurut Para Ahli,01-12-2010,20:44WIB
[36]http//belajarpsikologi.com,Remaja Menurut Para Ahli,01-12-2010,20:44WIB
[37]Up Cit,Monks , Knoers, Siti Rahayu Haditono.h 290-293
[38]UP Cit, Dr.akgram Ridho.h…..47
[39]Ibid..
11.Zahrudin AR, Pengantar Studi Akhlak, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2004, h…1
[41].Ibid,hlm …4
[42].Ibid, hlm…4
[43].Zahruddin AR, Pengantar Studi Akhlak,jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2004. H…4
[44].Asmaran AS, Pengantar Studi Akhlsk,Jakarta : Rajawali Press, 1992.h..9
[45]Harun Nasution, Islam Rasional (Cet. IV; Bandung: Mizan, 1996), h. 60
[46].Zainudin dkk, Seluk Beluk Pendidikan Al-Ghazli: jakarta Bumi Aksara , 1991.h..44
[47].Departemen Agama, Qur’an tajwid dan terjamah: Magfirah.h..401
[48]Ibid….hlm..71
[49]Achmadi, Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan.Yogyakarta: Aditya Media, 1992. h. 83.
[50]Yunahar Ilyas, Kuliah Ibadah.Yogyakarta: LPPI, 2005. h. 6
[51]Jalaluddin Rakhmat, Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih .Bandung: Muthahari Press, 2003. h. 139.
[52]Drs.Zaharudin, Hasananuddin Sinaga, PengantarStudi Akhlak,Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, h..153-161
[53]Syaikh M.Jamaluddin Mahfuzh, Psikologi Anak dan Remaja Muslim. Pustaka Al-Kautsar.Jakarta.2009. h..291
[54]Up Cit, Syaikh M.Jamaluddin Mahfuzh…hal.232
[55]. Suharsimi Arikunto, prusedur penelitian suatu pendekatan praktek, Jakarta, PT Rineka Cipta.h..71

[1]http://indonesian.irib.ir/, April, 24, 2011
[2]Muna Haddad Yakan,Hati-hati Terhadap Media yang Merusak Anak,Jakarta.GIP.h…32

[3] Ibid……h..33
[5]http://iblogronnpgp-bahasa.blogspot.com,23,04,2011
[6]Muna Hadad Yakan, Hati-hati Terhadap Media yang Merusak Anak, Gema Insani Press,  Jkt,1990h..11

[7]Ibid..h..27,30

[8] .Al-Qur’an danterjemahnya, depag RI, Semarang : Toha Putra, 1989 h...670
[9]http//www.kompas.co.id,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar