Translate

Minggu, 07 April 2013

Tunduk pada Wahyu, Ikut Cegah Pelecehan Seksual Wanita

HARI ini kaum wanita Indonesia menghadapi masalah serius. Ruang geraknya menjadi tidak aman ketika kasus pelecehan seksual terjadi di mana-mana. Bukan hanya ditempat privat tetapi juga tempat public sekalipun.

Bahkan hasil penelitian baseline survei “Penguatan Akses Remaja terhadap Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual (PKRS)” tahun 2012 di delapan kota di Indonesia yang dilakukan oleh Puska Gender dan Seksualitas FISIP UI menunjukan data-data adanya indikasi terjadinya tindak pelecehan seksual yang diterima siswa di sekolah.



Temuan PKRS,  20.8% anak wanita di sekolah diraba bagian tubuh tertentu (seperti payudara, alat kelamin, pantat) tanpa dikehendaki oleh teman mereka. Sementara 37,6% dipanggil/diejek dengan kata-kata yang seronok/ jorok/ sensual oleh teman-teman mereka.

Terungkapnya banyak kasus pelecehan seksual yang menimpa anak dibawah umur, mengundang kecaman dan keprihatinan.

Untuk mencegah pelecehan seksusl pada kaum hawa, tahun 2010 PT KAI Commuter Jabodetabek (PT KCJ) telah menyiapkan gerbong kereta khusus wanita (KKW) juga tempat duduk khusus wanita di busway Transjakarta, kasus pelecehan seksual justru masih banyak terjadi di tempat umum.

Di sisi lain,  usulan tokoh dan pengamat  agar ada pemberlakuan hukuman berat bagi para pelaku pelecehan seksual patut direspon.

Pendekatan hukum seperti itu sebenarnya tidak perlu diperdebatkan lagi, karena hukum berzina saja yang dilakukan suka sama suka harus dihukum berat, apalagi pelecehan seksual hingga pemerkosaan di mana ada unsur pemaksaan di dalamnya.

Pakar fikih Dr. Nirwan Syafrin dalam wawancara dengan Republika mengatakan, “pelecehan seksual adalah bentuk kejahatan berat, karena pelecehan seksual, apalagi pemerkosaan sama saja dengan merusak kehormatan seseorang. Sementara, Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kehormatan, selain keharusan menjaga agama dan keturunan.”

Ia bahkan  mengutip surah Al-Maidah:33 untuk menghukum kaum yang suka melecehkan seperti ini.

إِنَّمَا جَزَاء الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَاداً أَن يُقَتَّلُواْ أَوْ يُصَلَّبُواْ أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلافٍ أَوْ يُنفَوْاْ مِنَ الأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”  (QS; al-Maidah [5]: 33)

Jadi, secara hukum, pelecehan seksual itu tidak bisa dianggap perkara ringan, karena menyangkut kehormatan seseorang. Dan, Indonesia akan terhindar dari berkembangnya kasus pelecehan seksual manakala hukum Allah itu ditegakkan.

Masalahnya, sebagian orang terlanjur apriori, sehingga tidak melihat ketegasan hukum Islam yang telah terbukti efektif mengatasi berbagai macam persoalan sosial di masyarakat.

Pencegahan

Menariknya, meski banyak wanita dan kaum perempuan mendapati pelecehan di mana-mana, namun ketika disodorkan hukum Islam untuk melindungi harga-diri mereka, mereka buru-buru menolak beramai-ramai dan alergi.

Para pejabat, pemangku kepentingan negara ini bahkan masih belum rela jika disebut hukum Islam. Jika pengelola Negara masih alergi terhadap Islam, maka sebaiknya para Muslimah  harus mampu memiliki komitmen diri menerapkan Islam pada diri sendiri. Ada beberapa tips untuk para Muslimah.

Pertama, berbusanalah sesuai ajaran Islam. Soal busana dalam Islam bukan soal remeh apalagi sekedar selera. Berbusana adalah soal iman dan kehormatan diri. Maka Islam memberi ancaman berat kepada wanita mengaku Muslimah tapi berpakaian tidak sesuai ajaran Islam.

Oleh karena itu setiap kepala keluarga harus benar-benar bisa mengarahkan istri dan anak-anak perempuannya untuk selalu menggunakan jilbab.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS:Al Ahzab [33]: 59).

Ironisnya, di negeri ini kecantikan seorang wanita selalu diidentikkan dengan keindahan wajah, kulit, rambut. Untuk yang ini bahkan harus dilombakan.  Sementara para orangtua  tidak memiliki perhatian serius masalah aurat pada anak-anak perempuan mereka.

Kedua, selalulah ditemani muhrim ketika hendak melakukan urusan-urusan di luar rumah, terutama ketika membutuhkan waktu panjang dan perjalanan jauh. Kecuali bisa dipastikan aman, seperti ke sekolah, mengajar atau sebagainya. Namun dalam situasi seperti ini, ditemani muhrim akan jauh lebih baik dan menentramkan.

Maka dari itu, seorang Muslimah harus benar-benar memperhitungkan aktivitas yang akan dilakukannya. Apakah keluar rumahnya itu memang sangat penting atau biasa-biasa saja. Jika jelas makan waktu lama sampai harus pulang malam, maka meminta bantuan muhrim untuk menemani adalah langkah bijaksana.

Ketiga, hindari pamer wajah  yang dapat mengundang  fitnah,  khususnya dari lawan jenis. Hari ini banyak wanita memasang foto secara tidak selektif, apalagi menabrak batasan syariat sama saja membuka diri untuk direspon keliru oleh orang lain. Bagaimana tidak, semua mata lelaki bisa melihat. Ini tentu sangat tidak menguntungkan bagi siapa pun juga. Ini biasanya awal pintu masuk pelecehan seksual.

Keempat, berikan kecantikan dan dandanan kita hanya kepada suami semata, bukan orang lain. Apalagi kemapa teman-teman di jejaring sosial. Hanya suami yang boleh melihat dan menikmati kecantikan kita sebagai wanita.  Di tempat kita yang terjadi malah terbalik. Banyak wanita berhias ketika keluar rumah,  sementara di rumah biasa-biasa saja.

Kelima, hindari wangi-wangian di luar rumah, kecuali untuk suami.

Islam menyuruh umatnya bersijap rapi, harum dan bersih. Karenanya, kaum Adam disunnahkan menggunakan wewangian saat ke masjid.

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ (رواه النسائي)

Artinya: Dari Abu Musa al-Asy’ari berkata: “Rasulullah Saw bersabda: “Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluar rumah dan berjalan melewati satu kaum sehingga mereka dapat mencium baunya, maka ia adalah wanita pezina.” (HR: an-Nasa’I).

Keenam, jika pun terpaksa harus keluar maka harus meminta izin keluarga, suami atau orang-orang terdekat dengan kita dengan catatan handphone harus aktif selalu, sehingga kalau terjadi sesuatu di perjalanan, keluarga bisa segera mengambil tindakan cepat dan tepat.

Fakta  menunjukkan, di Negara-negara Eropa yang wanitanya sangat minim dalam berpakaian tingkat perkosaan jauh lebih tinggi. 17,7 juta wanita AS pernah menjadi korban percobaan perkosaan atau perkosaan. Data statistik itu dihimpun organisasi nasional AS untuk anti kekerasan; Rape, Abuse, and Incest National Network (RAINN), setiap menit terjadi 24 pemerkosaan di Amerika (AS). Amerika Serikat (AS) justru berada diurutan ke 57 dalam survei. Dari jumlah itu, 2,8 persen menjadi korban percobaan perkosaan.Sementara Arab Saudi yang sering menjadi kambing hitam  justru menduduki peringkat 115 dari 116 negara yang disurvei. (lihat: http://www.nationmaster.com/graph/cri_rap-crime-rapes)

Mudah-mudahan dengan cara kita berpakaian dan menutup aurat secara baik (sebagaimana anjuran Islam), ikut menjadikan kita lebih sempurna menjalankan agama Allah Subhanahu Wata’alka ini, dan pasti ikut melindungi diri kita dari kejahatan dan pelecehan seksual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar